Kamis, 28 April 2011

MASYARAKAT MADANI

Terlahirnya  istilah masyarakat madani di Indonesia adalah bermula dari gagasan Dato Anwar Ibrahim, ketika itu tengah menjabat sebagai Menteri keuangan dan Asisten Perdana Menteri Malaysia, ke Indonesia membawa “ istilah masyarakat madani” sebagai terjemahan  “ civil society”, dalam ceramahnya pada simposium  nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada acara festival Istiqlal, 26 september 1995. Istilah masyarakat madani pun sebenarnya sangatlah baru, hasil pemikiran  Prof. Naquib al-Attas seorang filosof kontemporer dari negeri jiran Malaysia dalam studinya baru-baru ini. Kemudian mendapat legitimasi dari beberapa pakar di Indonesia  termasuk seorang Nurcholish Madjid yang telah melakukan rekonstruksi terhadap masyarakat madani dalam sejarah islam pada  artikelnya “Menuju Masyarakat Madani”.[1]
Dewasa ini, istilah masyarakat madani semakin banyak disebut, mula-mula terbatas di kalangan intelektual, misalnya Nurcholish Madjid, Emil Salim, dan Amien Rais. Tetapi perkembangannya  menunjukkan istilah masyarakat madani juga disebut-sebut oleh tokoh-tokoh pemerintahan  dan politik, misalnya mantan Presiden B.J. habibie, Wiranto, Soesilo bambang Yudoyono dan masih banyak lagi.[2] 
Masyarakat madani atau yang disebut orang barat Civil society mempunyai prinsip pokok pluralis, toleransi dan human right termasuk didalamnya adalah demokrasi. Sehingga masyarakat madani dalam artian negara menjadi suatu cita-cita bagi negara Indonesia ini, meskipun sebenarnya pada wilayah-wilayah tertentu, pada tingkat masyarakat kecil, kehidupan yang menyangkut prinsip pokok dari masyarakat madani sudah ada.   Sebagai bangsa yang pluralis dan majemuk, model masyarakat madani merupakan  tipe ideal suatu mayarakat Indonesia demi terciptanya integritas sosial bahkan integritas nasional.
Memencari padan kata “masyarakat madani” dalam literatur bahasa kita memang agak sulit. Kesulitan ini tidak hanya disebabkan karena  adanya hambatan psikologis untuk menggunakan istilah-istilah tertentu yang berbau Arab-Islam tetapi juga karena tiadanya pengalaman empiris diterapkannya nilai-nilai “masyarakat madaniyah” dalam tradisi kehidupan social dan politik bangsa kita. Namun banyak orang memadankan istilah ini dengan istilah civil society, societas civilis (Romawi) atau koinonia politike (Yunani). Padahal istilah “masyarakat madani “ dan civil society berasal dari dua sistem budaya yang berbeda. Masyarakat madani merujuk pada  tradisi Arab-Islam sedang  civil society tradisi barat non-Islam. Perbedaan ini bisa memberikan makna yang berbeda apabila dikaitkan dengan konteks istilah itu muncul.[3] 
Dalam bahasa Arab, kata “madani” tentu saja berkaitan dengan kata “madinah” atau ‘kota”, sehingga masyarakat madani bias berarti masyarakat kota atau perkotaan . Meskipun begitu, istilah kota disini, tidak merujuk semata-mata kepada letak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Dari sini kita paham  bahwa masyarakat madani tidak asal masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang lebih penting adalah memiliki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota,yaitu yang berperadaban. Dalam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai kata “civilized”, yang artinya memiliki peradaban (civilization), dan dalam kamus bahasa Arab dengan kata “tamaddun” yang juga berarti  peradaban atau kebudayaan tinggi. [4]
Penggunaan istilah masyarakat madani  dan civil society di Indonesia sering disamakan  atau digunakan secara bergantian. Hal ini dirasakan karena makna diantara keduanya banyak mempunyai persamaan prinsip pokoknya, meskipun berasal dari latar belakang system budaya negara yang berbeda.
Adam Seligman mengemukakan dua penggunaan istilah  Civil Society dari sudut konsep sosiologis. Yaitu, dalam tingkatan kelembagaan dan organisasi  sebagai tipe sosiologi politik dan membuat civil society sebagai suatu fenomena dalam dunia nilai dan kepercayaan. Untuk yang pertama, civil society dijadikan sebagai perwujudan suatu tipe keteraturan kelembagaan. Dalam pengertian civil society dijadikan jargon untuk memperkuat ide demokrasi, yang menurut Seligman dikembangkan oleh T.H. Marshall. Atau dengan kata lain bicara civil society sama dengan bicara demokrasi. Dan civil society ini merupakan obyek kajian dalam dunia politik  (sosiologi politik, antropologi politik, dan social thoughts) . Sedangkan yang kedua, civil society  menjadi wilayah kajian filsafat yang menekankan  pada nilai dan kepercayaan. Yang kedua ini menurut Seligman, kajian civil society sekarang ini mengarah pada kombinasi antara konsep  durkheim tentang moral individualism dan konsep Weber tentang rasionalitas  bentuk modern organisasi sosial, atau sintesa Talcott Person tentang karisma Weber dan individualism Durkheim.[5] 
Pemetaan tentang civil society pernah dilakukan oleh Michael W. Foley dan Bob Edwards yang menghasilkan Civil Sosiety I dan Civil Society II. Namun dalam perkembangannya , terdapat analisis yang  mencakup dari kedua aspek (civil Society I dan II), hingga menghasilkan kombinasi atau tipe Civil society III.
Dalam wacana civil society I di Indonesia  lebih menekankan aspek horizontal dan biasanya dekat dengan aspek budaya. Civil society di sini erat dengan “civility” atau keberadaban dan “fraternity”. Aspek ini dibahas pemikir masyarakat madani atau madaniah yang mencoba melihat relevansi konsep tersebut (semacam “indigenisasi”) dan menekankan toleransi antar agama. Analis utama dalam kelompok ini adalah Nurcholish Madjid yang mencoba melihat civil society berkaitan dengan masyarakat  kota madinah pada jaman Rosulullah.Menurut Madjid, piagam madinah merupakan dokumen politik pertama  dalam sejarah umat manusia yang meletakkan dasar-dasar pluralisme dan toleransi, sementara toleransi di Eropa (Inggris ) baru dimulai dengan The Toleration Act of 1689.[6] Penggunaan konsep madani ini mendapat kritik dari kelompok yang menggunakan “civil society’ dengan Muhammad Hikam sebagai pemikir utamanya. Perdebatan utamanya terletak pada bentuk masyarakat ideal dalam civil society tersebut. Walaupun kedua kelompok tersebut erat dengan “Islam cultural” namun contoh masyarakat Madinah kurang mencerminkan relevansi dengan Indonesia.[7]
Selain civil society dan masyarakat madani, konsep masyarakat warga atau kewargaan digunakan pula oleh  Ryaas Rasyid dan Daniel Dhakidae. Wacana dalam civil Society II  memfokuskan pada aspek “vertical” dengan mengutamakan otonomi masyarakat terhadap negara dan erat dengan aspek politik. Dalam civil society II, istilah “civil” dekat dengan “citizen’ dan “liberty”. Terjemahan yang diIndonesiakan adalah Masyarakat warga atau masyarakat kewargaan dan digunakan oleh ilmuwan politik . Pemahaman civil society II intinya  menekankan asosiasi diantara individu (keluarga) dengan negara yang relatif otonom dan mandiri. Namun, terdapat perdebatan apakah partai politik  atau konglomerat termasuk disini atau apakah semua organisasi yang non-negara merupakan civil society. Jadi civil society II dapat bermakna beragam dan ada pula yang mndefinisikan “civil society’ sebagai “the third sector” yang berbeda dari pemerintah dan pengusaha.[8]
Pembahasan civil society III merupakan upaya untuk mempertemukan civil sosiey I dan civil society II. Kombinasi antara Civil society I dan II yang menjadi civil society III telah dibahas oleh Afan Gaffar di bukunya Politik Indonesia; Transisi Menuju demokrasi (1999). Dibahas pula oleh Paulus Wirutomo dalam pidato pengukuhan Guru Besar yang berjudul  Membangun Masyarakat Adab: Suatu Sumbangan Sosiologi. Konsep civil society III ini yang dirasa relevan dengan masyarakat Indonesia dimana keadaan vertical (antar lapisan dan kelas), seperti demokratisasi dan partisipasi  erat kaitannya dengan situasi horizontal atau SARA. Kedua aspek tersebut mengalami represi dan sejak reformasi 1998 muncu ke permukaan dan membutuhkan perhatian dalam proses re-integrasi.[9]
Maka dari itu, perspektif masyarakat madani di Indonesia dapat dirumuskan secara sederhana, yaitu membangun masyarakat yang adil, terbuka dan demokratif, dengan landasan taqwa kepada Allah dalam arti semangat ketuhanan Yang Maha Esa. Ditambah legalnya nilai-nilai hubungan sosial yang luhur, seperti toleransi dan juga pluralisme, adalah merupakan kelanjutan nilai-nilai keadaban (tamaddun). Sebab toleransi dan pluralisme adalah wujud ikatan keadaban (bond of civility).[10]
Di sini pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekedar sebagai “kebaikan negative”, hanya ditilik dari kegunaannya untuk menyingkirkan  fanatisme. Pluralisme harus difahami sebagai ‘pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”. Bahkan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkan.[11]
Di Indonesia, pluralisme dalam keberagamaan dapat dibagi menjadi 3 jaman perkembangannya, yaitu:
1.    Pluralisme cikal-bakal. Yang di maksud istilah ini adalah pluralisme yang  relative stabil, karena kemajemukan suku dan masyarakat pada umumnya masih berada dalam taraf statis. Mereka hidup dalam lingkungan  yang relative terisolasi  dalam batas-batas wilayah  yang tetap, dan belum memiliki mobilitas yang tinggi karena teknologi  komunikasi dan transportasi  yang mereka miliki belum  memadai. Agama-agama suku hidup dalam claim dan domain yang terbatas, tidak berhubungan  satu dengan lainnya. Keadaan seperti ini tidak banyak berubah sampai datang  pengaruh agama yaitu agama Hindu dan Budha dengan tingkat peradabannya masing-masing.
2.    Pluralisme kompetitif. Pluralisme jenis kedua ini kira-kira mulai abad 13 ketika agama islam mulai berkembang di Indonesia, dan kemudian disusul dengan kedatangan agama Barat atau agama Kristen (baik katolik maupun Protestan) pada kira-kira abad 15. konflik dan peperangan mulai terjadi diantara kerajaan islam di pesisir dengan sisa-sisa kekuatan Majapahit di pedalaman Jawa. Ketika penjajah dating dengan konsep “God, Gold, and Glory”, persaingan antara Islam dan Kristen terus berlangsung hingga akhir abad 19.
3.    Pluralisme Modern atau pluralisme organik. Di awal abad ke 20, puncak dominasi Belanda atas wilayah nusantara tercapai dengan didirikannya “negara” Nederland Indie. Kenyataan negara ini  menjadi  sebuah kesatuan organic yang memiliki satu pusat pemerintah yang mengatur kehidupan berdasarkan hukum dan pusat  kekuasaan  yang riil. Pluralisme SARA memang diperlemah, disegregasikan, , dan dibuat terfragmentasikan demi kepentingan Belanda. Kemudian upaya-upaya mansipasi SARA pun terjadi dalam peristiwa Sumpah pemuda 1928 dan proklamasi kemerdekaan 1945.[12]




 [1] Sufyanto, Masyarakat Tamaddun: Kritik hermeneutis Masyarakat madani Nurcholish Madjid, Jogjakarta, Pustaka Pelajar, 2001.
 [2] Ibid.
 [3] Achmad Jainuri, Agama dan Masyarakat Madani: Rujukan kasus tentang sikap Budaya, Agama, dan Politik, kata pengantar untuk Sufyanto, Op.Cit.
 [4] Mulyadhi Kertanegara, Masyarakat Madani dalam Perspektif Budaya Islam, media Inovasi Jurnal Ilmu dan Kemanusiaan edisi 1 TH-xii/2002.
 [5] A. Qodri Abdillah Azizy, Masyarakat Madani Antara Cita dan Fakta(Kajian Historis-Normatif), dalam Ismail dan Mukti, Jogjakarta, Pustaka Pelajar, 2000.
 [6] Iwan Gardono Sujatmiko, Wacana Civil Society di Indonesia, Jurnal sosiologi edisi No.9, 2001, Jakarta, Penerbit Buku Kompas.
 [7] Ibid.
 [8] Ibid.
 [9] Ibid.
 [10] Sufyanto, Op., Cit.
 [11] Munawar-Rachman, Pluralisme dan Teologi Agama-Agama Islam dan Kristen, dalam Th. Sumartana (ed.), Op., Cit.
 [12] Th. Sumartana, Pluralisme, Konflik, dan Dialog; Refleksi tentang Hubungan antar Agama di Indonesia, dalam Sumartana (ed.), ibid.

Selasa, 26 April 2011

TEORI SOSIAL PART 2 ( ALBERT BANDURA )

Albert Bandura
Albert Bandura dilahirkan pada tahun 1925 di Alberta, Canada. Dia memperoleh gelar Master di bidang psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doktor (Ph.D). Setahun setelah lulus, ia bekerja di Standford University.
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory), salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Albert Bandura menjabat sebagai ketua APA pada tahun 1974 dan pernah dianugerahi penghargaan Distinguished Scientist Award pada tahun 1972.

Teori Berpikir Sosial (social Learning Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking),
Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku
Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal
Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan
Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.
Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.
Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory system”. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.
Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar, 2) sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978). Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan “self evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.
Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar, mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar.
Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut :
Strategi Proses
1.Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri :
a. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep, motor skil atau efektif?
b. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut?
c. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut?
2.Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model.
a. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction)
b. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting?
c. Apakah model harus hidup atau simbol?
Pertimbangan soal biaya, pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.
d. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih?

3.Pengembangan sekuen instruksional
a. Untuk mengajar motor skill, bagaimana caramengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this” dan bukannya “not this”.
Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan
4. Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi.
a. motor skill
1) hadirkan model
2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik
3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual
b. proses kognitif
1) Tampilkan model, baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh
2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary
3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif
4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.

Dari uraian tentang teori belajar sosial, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar.
2. komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar.
3. hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel).
4. dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri, perlu ditumbuhkan “sense of efficacy” dan self regulatory” pembelajar.
5. dalam proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan “reinforcement” dan hindari punishment yang tidak perlu.
ok..semoga membantu

TEORI SOSIAL BANDURA

Teori Social Learning Albert Bandura

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Teori belajar sosial Bandura menunjukkan pentingya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan reaksi emosi orang lain. Teori ini menjelaskan perilaku manusia dalam, konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.

Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah:

Perhatian (atensi), mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan, keterlibatan perasaan, tingkat kerumitan, kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indra, minat, persepsi, penguatan sebelumnya.

Penyimpanan atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik, pengorganisasian pikiran, pengulangan simbol, pengulangan motorik.

Reproduksi motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.

Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:

Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru ke dalam kata-kata, tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsung ditirukan oleh siswa pada saat itu juga. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tari juga didukung dengan penayangan video, gambar atau intruksi yang ditulis dalam buku.

individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.

Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan, tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.

Karena melibatkan atensi, ingatan dan motivasi, teori Bandura dilihat dalam kerangka teori behavior-kognitif. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi perilaku. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.

Senin, 11 April 2011

What is coherence

The meaning of coherence is to stick things together. The elements of coherent writing, the words and the information they convey, are related to one another so that readers can follow the flow of thought easily from sentence to sentence, paragraph to paragraph. The problem with the term coherence is that it sounds static, as if coherent writing just sits there sticking together. Coherence in writing actually has a dynamic quality, because it has to do with movement: movement of information and ideas, movement of the reader's changing perceptions and knowledge.
Paragraph Coherence
The coherence is the element of a good paragraph. In order to have coherence in writing, the sentences must hold together i.e. the movement from one sentence to the next must be logical and smooth. There must be no sudden jumps. The following are four ways that you can establish coherence in your writing:
1. Repeating Nouns
One of the best ways to achieve coherence is to repeat key nouns frequently in your paragraph. This is an important thing to do as it helps the reader follow what you are saying.
2. Use of Consistent Pronouns
Pronoun use is important in your paragraph because it helps you to avoid repeating the same noun over and over again in your writing. However when you use pronouns instead of key nouns remember to use the same person and number throughout the paragraph. Do not change from you to he or she (change of person), or from he to they (change of number).
3. Transition Signals
Transition signals are words such as first, second, next, finally, therefore and however or phrases such as in conclusion, on the other hand and as a result. It is a good idea to think of transition signals as traffic signs that tell your reader when to go forward, turn, slow down and stop. In other words, they tell the reader when you are giving a similar idea (similarly, moreover, furthermore, in addition), an opposite idea (on the other hand, however, in contrast), an example (for example), a result (as a result), or a conclusion (in conclusion). Using transition words as a guide makes it easier for your reader to follow your ideas. Transition words give your paragraph coherence.
4. Logical Order
Logical order is an important element of paragraph writing. Of course which type of logical order you choose depends on your topic and your writing purpose. The important point to remember is to arrange your ideas in some kind of order that is logical to a reader familiar to the English way of writing. Some examples of logical order in English include chronological order, logical division of ideas and comparison/contrast. In some types of essay writing it is possible to combine many forms of logical order.
Sentence Coherence
To achieve cohesion, the link of one sentence to the next, keep the following techniques in your mind:
1. Repetition: In sentence B (the second of any two sentences), repeat a word from sentence A.
2. Synonymy: If direct repetition is too obvious, use a synonym of the word you wish to repeat. This strategy is call 'elegant variation.'
3. Antonymy: Using the "opposite" word, an antonym, can also create sentence cohesion, since in language antonyms actually share more elements of meaning than you might imagine.
4. Pro-forms: Use a pronoun, pro-verb, or another pro-form to make explicit reference back to a form mentioned earlier.
5. Collocation: Use a commonly paired or expected or highly probable word to connect one sentence to another.
6. Enumeration: Use overt markers of sequence to highlight the connection between ideas. This system has many advantages:
1) it can link ideas that are otherwise completely unconnected.
2) it looks formal and distinctive.
3) it promotes a second method of sentence cohesion.
7. Parallelism: Repeat a sentence structure. This technique is the oldest, most overlooked, but probably the most elegant method of creating cohesion.
8. Transitions: Use a conjunction or conjunctive adverb to link sentences with particular logical relationships.
1) Identity: Indicates sameness. "that is, that is to say, in other words, ..."
2) Opposition: Indicates a contrast. "but, yet, however, nevertheless, still, though, although, whereas, in contrast, rather, ..."
3) Addition: Indicates continuation. "and, too, also, furthermore, moreover, in addition, besides, in the same way, again, another, similarly, a similar, the same, ... "
4) Cause and effect: "therefore, so, consequently, as a consequence, thus, as a result, hence, it follows that, because, since, for, ..."
5) Indefinites: Indicates a logical connection of an unspecified type. "in fact, indeed, now, ..."
6) Concession: Indicates a willingness to consider the other side. "admittedly, I admit, true, I grant, of course, naturally, some believe, some people believe, it has been claimed that, once it was believed, there are those who would say, ..."
7) Exemplification: Indicates a shift from a more general or abstract idea to a more specific or concrete idea. "for example, for instance, after all, an illustration of, even, indeed, in fact, it is true, of course, specifically, to be specific, that is, to illustrate, truly, ..."

Pengertian Koherensi

Koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta, dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dihubungkannya. Ada beberapa penanda koherensi yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya penambahan (aditif), rentetan (seri), keseluruhan ke sebagian, kelas ke anggota, penekanan, perbandingan (komparasi), pertentangan (kontras), hasil (simpulan), contoh (misal), kesejajaran (paralel), tempat (lokasi), dan waktu (kala).
(1) Penambahan (aditif), penanda koherensi yang bersifat aditif atau berupa penambahan antara lain: dan, juga, selanjutnya, lagi pula, serta.
(2) Rentetan (seri), penanda koherensi yang berupa rentetan atau seria ialah pertama, kedua, …, berikut, kemudian, selanjutnya, akhirnya.
(3) Keseluruhan ke sebagian, yaitu pembicaraan atau tulisan yang dimulai dari keseluruhan, baru kemudian beralih atau memperkenalkan bagian-bagiannya.
(4) Kelas ke anggota, yang dimaksud penanda koherensi ini ialah dengan menyebutkan bagian yang umum menuju ke bagian-bagian lebih khusus.
(5) Penekanan, yang dimaksud penenda koherensi ini ialah kata atau frasa yang memberikan penekanan terhadap kalimat sebelumnya ataupun kalimat sesudahnya.
(6) Perbandingan (komparasi), penanda koherensi ini ialah sama halnya, hal serupa, hal yang sama, seperti, tidak seperti, dll.
(7) Pertentangan (kontras), penanda koherensi ini dapat berupa tetapi, tapi, meskipun, sebaliknya, namun, walaupun, dan namun demikian.
(8) Hasil (simpulan), yag dimaksud penanda koherensi ini ialah kata atau frasa yang mengacu pada simpulan.
(9) Contoh (misal), penanda koherensi ini dapat berupa antara lain: umpamanya, misalnya, contohnya.
(10) Kesejajaran (paralel)
(11) Tempat (lokasi), penanda koherensi ini antara lain: di sini, di situ, di rumah, dll.
(12) Waktu (kala), penanda koherensi ini antara lain: mula-mula, sementara itu, tidak lama kemudian, ketika itu.
C. Penanda Kohesi dan Koherensi pada Iklan Layanan Masyarakat PT. Telkom Indonesia di Koran Jawa Pos Edisi 2 Juni 2007
No
Penanda
Kalimat/ klausa/ frasa yang menunjukkan
Kohesi
Koherensi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
Pronomina
Pronomina
Pronomina
Pronomina
Pronomina
Konjungsi (koordinatif)
Konjungsi (koordinatif)
Konjungsi
(adversatif)
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Aditif
Aditif
Penekanan
Pertentangan
Hasil/ simpulan
Lokasi
Lokasi
Kala (waktu)
Kami memahami bahwa bangkitnya sebuah bangsa besar dimulai dengan membuka …
… dimulai dengan membuka wawasan generasi penerusnya.
Oleh karenanya, kami berkomitmen turut serta …
Semuanya kami lakukan agar generasi Indonesia baru tampil gemilang di masa depan.
Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional telah berlalu, namun semangatnya terus menyala.
… dengan menyediakan unit komputer beserta koneksi internet di berbagai sekolah …
Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional telah berlalu, namun semangatnya terus menyala.
Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional telah berlalu, namun semangatnya terus menyala.
… dengan menyediakan unit komputer beserta koneksi internet di berbagai sekolah …
Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional telah berlalu, namun semangatnya terus menyala.
Kami memahami bahwa bangkitnya sebuah bangsa besar dimulai dengan membuka wawasan generasi penerusnya. Oleh karenanya, kami berkomitmen turut serta mencerdaskan anak Indonesia dengan menyediakan unit komputer beserta koneksi internet di berbagai sekolah di seluruh pelosok negeri.
Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional telah berlalu, namun semangatnya terus menyala.
Kami memahami bahwa bangkitnya sebuah bangsa besar dimulai dengan membuka wawasan generasi penerusnya. Oleh karenanya, kami berkomitmen turut serta mencerdaskan anak Indonesia dengan menyediakan unit komputer beserta koneksi internet di berbagai sekolah di seluruh pelosok negeri.
… menyediakan unit komputer beserta koneksi internet di berbagai sekolah di seluruh pelosok negeri.
… menyediakan unit komputer beserta koneksi internet di berbagai sekolah di seluruh pelosok negeri.
Semuanya kami lakukan agar generasi Indonesia baru tampil gemilang di masa depan.
Pada contoh kalimat (1), (3), dan (4) menggunakan kata ‘kami’ yang termasuk dalam persona pertama jamak. Persona ini dimaksudkan sebagai kata ganti si pencetus iklan layanan masyarakat tersebut, yaitu PT. Telkom. Sedangkan pada kalimat (2) dan (5) menggunakan kata ‘-nya’ yang merupakan persona ketiga tunggal. Pada kalimat ke-(2), ‘-nya’ yang dimaksudkan sebagai kata ganti bangsa. Berbeda dengan makna pronomina ‘nya’ sebelumnya, pada kalimat (5) pronomina ‘nya’ mengandung arti sebagai kata ganti benda yaitu Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Nasional.
Kalimat ke-(6) pada kata ‘beserta’ termasuk konjungsi yang menghubungkan kata dengan kata. Dikatakan konjungsi atau kata penghubung koordinatif, sebab kata ‘beserta’ mengandung makna ekuivalen dengan ‘dan’, yaitu menyatakan hal masih berkelanjutan (belum berakhir). Kalimat ke-(7) juga termasuk konjungsi koornitaif, sebab memakai kata ‘dan’, yang juga bermakna bahwa masih ada kelanjutannya. Sedangkan pada kalimat (8) termasuk konjungsi adversatif melalui kata ‘namun’, yang bermakna pertentangan.
Pada penelitian ini ada dua penanda aditif atau penambahan, yaitu dan dan beserta, hal tersebut tampak pada kalimat (9) dan (10). Penanda aditif pada kalimat (10) memakai kata ‘dan’ yang menghubungkan frasa Hari Pendidikan dengan Hari Kebangkitan Bangsa. Sedangkan pada kalimat (9), penanda aditif menghubungkan frasa unit komputer dengan koneksi internet. Penanda aditif atau penambahan merupakan penanda yang menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, dan frasa dengan frasa. Kalimat yang dibentuk dengan penambahan ini disebut kalimat majemuk setara.
Penekanan ialah kata atau frasa yang memberikan penekanan terhadap kalimat sebelumnya ataupun kalimat sesudahnya. Penekanan dalam penelitian ini terdapat pada kalimat (11) melalui penanda ‘oleh karenanya’. Penanda tersebut memberikan penekanan pada kalimat sesudahnya. Makna yang muncul akibat penanda tersebut ialah terjadi penegasan pada kalimat kedua atas pernyataan yang dikemukakan pada kalimat pertama (kalimat kedua merupakan tindak lanjut dari pernyataan kalimat pertama).
Pertentangan atau kontras terdapat pada kalimat (12) melalui penanda ‘namun’. Kata ‘namun’ ini menimbulkan pertentangan atas pernyataan frase pertama, yang mengandung makna walaupun …, namun …
Penanda koherensi hasil atau simpulan ialah kata atau frase yang mengacu pada simpulan. Pada kalimat (13) menampakkan unsur tersebut melalui penanda ‘oleh karenanya’. Melalui penanda tersebut, muncul hasil atau simpulan dalam paragraf pada data ke-(13), sehingga paragraf dapat segera diakhiri dengan menampilkan usaha tindak lanjut yang berupa hasil atau simpulan.
Pada penelitian ini terdapat satu penanda koherensi lokasi atau tempat yaitu ‘di’. Hal tersebut tampak pada kalimat (14) dan (15). Kata ‘di’ pada kedua kalimat tersebut menjelaskan kata selajutnya di belakang kata ‘di’ yang bermakna menunjukkan suatu letak, tempat, atau lokasi.
Sedangkan penanda koherensi kala (waktu) tampak pada kalimat (16) melalui pemakaian kata ‘di masa depan’.
D. Analisis Wacana Gambar Iklan Layanan Masyarakat PT. Telkom Indonesia di Koran Jawa Pos Edisi 2 Juni 2007
Pada penelitian ini, peneliti mencoba menganalisis maksud wacana gambar yang muncul setelah mengamati iklan layanan masyarakat PT. Telkom di koran Jawa Pos. Gambar yang disajikan pada iklan tersebut ialah berupa gambar tiga pelajar Sekolah Dasar (SD), satu perempuan dan dua laki-laki berseragam putih-merah lengkap berdasi. Ketiga anak tersebut terlihat asyik di depan komputer dengan mimik wajah yang tampak gembira. Salah satu siswa laki-laki yang duduk di depan komputer tertawa riang sambil tangan kirinya menunjuk ke arah layar komputer. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa perhatian ketiga siswa tersebut tertuju pada apa yang tampak di layar komputer.
Unit komputer tersambung dengan pesawat telepon. Karena iklan layanan masyarakat ini dibuat oleh PT. Telkom yang berada pada bidang pertelekomunikasian serta saat ini sedang memasarkan produk barunya berupa koneksi internet, maka dapat disimpulkan bahwa pesawat telepon yang diletakkan di atas meja di samping unit komputer, merupakan perangkat koneksi internet. Saat ini, PT. Telkom telah meluncurkan produk baru berinternet dengan cara yang mudah dan cepat, yaitu cukup menyatukan kabel jaringan telepon pada unit komputer. Sehingga saat berada di rumah, atau di pelosok negeri di mana di tempat tersebut telah terpasang jaringan telepon, maka kegiatan berinternet mencari informasi yang lebih luas dengan cara yang mudah dapat dilakukan.
Setting tempat yang disajikan dalam iklan layanan masyarakat PT. Telkom di koran Jawa Pos ini berupa hutan heterogen yang ditumbuhi beragam flora. Ketiga siswa asyik mengoperasikan komputer meskipun mereka berada di tempat terpencil (dicontohkan dalam gambar berupa hutan). Hal tersebut merupakan komitmen PT. Telkom guna memperingati Hari Pendidikan dan Hari Kebangkitan Bangsa, bahwa akan turut serta mencerdaskan bangsa melalui penyediaan unit komputer beserta koneksi internet di berbagai sekolah di seluruh pelosok negeri. Sehingga nantinya, di pelosok negeri sekalipun fasilitas internet dapat dinikmati
Di hutan, tampak dua jenis dinosaurus raksasa yang berjalan bebas. Mengisyaratkan bahwa informasi langka sekalipun dapat diperoleh melalui internet. Dinosaurus berada berdekatan dengan siswa-siswa, menunjukkan bahwa dengan internet informasi atau petunjuk yang berasal dari masa lalu, di tempat yang jauh sekalipun, tidak akan terasa jauh dan bukan menjadi jarak bagi masyarakat untuk menikmati layanan internet. Melalui internet, jauh akan terasa dekat, serta hal yang tidak mungkin akan terasa mungkin. Maka, kita dituntut agar mampu memanfaatkan fasilitas internet untuk mendapatkan informasi yang positif, bukan merugikan masyarakat melalui informasi negatif dari internet. Sehingga kegiatan belajar mempelajari isi dunia terasa menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Jawa Pos. 2007. Iklan PT. Telkom Indonesia pada rubrik Ekonomi Bisnis. 2 Juni 2007. Halaman 7.
Kusuma, Dwi. 2003. Kohesi dan Koherensi Iklan Layanan Masyarakat dalam Tabloid Bintang Indonesia Edisi Desember 2002 – Februari 2003. skripsi. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Rani, Abdul, dkk. 2006. Analisi Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.
Sobur, Alex. 2003. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Rosda Karya.

Minggu, 10 April 2011

screamo song


it's time to screamo..........................let's play this song

CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE

 JIKA ANAK SERING DIKRITIK, MAKA IA AKAN BELAJAR MENGUMPAT
 JIKA ANAK SERING DIKASARI, MAKA IA AKAN BELAJAR BERKELAHI
 JIKA ANAK SERING DIEJEK, MAKA IA AKAN MENJADI PEMALU
 JIKA ANAK SERING DIPERMALUKAN, MAKA IA AKAN BELAJAR MERASA BERSALAH
 JIKA ANAK SERING DI SEMANGATI, MAKA IA AKAN BELAJAR MENGHARGAI
 JIKA ANAK MENDAPAT HAKNYA, MAKA IA BELAJAR BERTINDAK ADIL
 JIKA ANAK MERASA AMAN, MAKA IA AKAN BELAJAR PERCAYA
 JIKA ANAK MENDAPAT PENGAKUAN,MAKAIA BELAJAR MENYUKAI DIRI SENDIRI
 JIKA ANAK DITERIMA DAN DIAKRABI, MAKA IA BELAJAR CINTA

UNISKI


UNISKI,,,,,UNIVERSITAS SWASTA,YANG TERLETAK DI KOTA KAYU AGUNG, PALEMBANG, SUMATERA SELATAN. BERDIRI PADA TAHUN 2007, MERUPAKAN UNIVERSITAS YANG PERTAMA KALI BERDIRI DI KOTA YANG BERKEMBANG INI.
JIKA ANDA MENGENAL DAERAH INI, MAKA ANDA BISA MENJUMPAI KAMPUS UNISKI DI KAYU AGUNG.

tenses presentation

naahhhhh,,,,,,,,,,pelajari tensis mungkin bisa lebih mudah menggunakan microsoft powerpoint................
beberapa alamat link yang bisa anda download

berbagi pengetahuan

Kepada para netter yang haus dan memilki sebuah pengetahuan baru, mari kita saling berbagi info..........